29 September, pukul 17.12 WIB
”Tunggu, tunggu! Jangan bicara
dulu! Biar aku yang nebak...”, perempuan di depanku mengangkat jari telunjuknya
sembari tersenyum kecil. Gerak bibirnya membaca selembar kertas yang tengah ia
genggam. Manik matanya mencari-cari.
”Secangkir cappuccino dingin
dengan ekstra foam tanpa gula dan secangkir macchiato hangat dengan setengah
sendok gula”, bibirnya melengkung lebar. ”Dan segelas bubble gum
favoritkuuuu!”, tambahnya dengan penuh semangat. Aku menghela napas. Ku ulurkan
tangan kananku untuk mengacak rambutnya, gemas. ”Perempuanku...”, bisikku
lirih.
”Aku hebat, kan? Enam kali kita
kencan dan aku sudah hafal menu favoritmu. Hehe..”
Aku tertawa. Kupandangi sekali
lagi perempuan di hadapanku. Aku mencintainya. Iya, aku yakin aku mencintainya.
Sekali lagi ku ulurkan tanganku di puncak kepalanya sambilalu ia mencatat
pesanan kami di selembar kertas.
“17.21, sebentar lagi matahari
terbenam. Bagian yang paling aku suka dan kamu juga suka. Gimana kalau nanti kita
nikahnya pas lagi momen senja gini?”, matanya menatap tepat di hitam legam bola
mataku. Aku terhenyak, tiba-tiba jantungku terasa sedikit ngilu. Perempuan di
hadapanku masih tersenyum lebar, menunggu jawaban. Aku memperbaiki posisi
dudukku. Jari telunjukku sedikit gemetar. Kemudian dengan sedikit getir kujawab,
“Iya, sayang. Nanti kita nikah pas senja yaaa..”
“Yes!!”, ia melompat kegirangan.
Kedua lengannya memelukku secara tiba-tiba. Sekali lagi, kubelai puncak
kepalanya, kemudian berbisik, “ppsstt.. kertasnya udah ditunggu sama baristanya
tuh!”
Perempuanku melangkah menjauh,
mendekati meja barista untuk menyerahkan pesanan. Sementara aku tetap di posisiku,
duduk di meja nomor 12 dekat jendela kaca menghadap ufuk barat. Ku lirik jam ditangan
kiriku, 17.23. “Sebentar lagi…”, bisikku lirih.
Krinciiingg…
Bunyi bel pintu mengalihkan
pandanganku. Seorang perempuan dengan tas warna oranye baru saja datang diiringi
senyum lebarnya pada seorang barista. Tangannya memeluk sebuah buku, kemudian
dia tertawa, “seperti biasa ya, bro! Hehe.”
Mataku terpaku. Perempuan itu melewati
beberapa meja kosong dan duduk di meja paling ujung. Rambut hitamnya jatuh lembut
dihiasi sinar jingga sang matahari. Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan sebuah
benda dari dalam sana.
“Pesananmu belum datang, Tuan.
Tapi mengapa hatimu sudah sedingin ini?”, aku terperanjat kaget. Kucari-cari
asal suara barusan. Ternyata meja di hadapanku meledek sinis. Kuusap-usap
mataku, meyakinkan bahwa yang baru saja ku dengar hanyalah imajinasiku saja. “Kau
ke sini lagi setelah sekian lama tidak mengunjungi kami, Tuan? Tetapi sepertinya
ada yang berbeda kali ini..” ubin yang ku pijak tersenyum tipis. “Bahkah aku
berani bertaruh bahwa percakapan kali ini tidak akan sehangat kemarin!”, kursi
yang kududuki menyeringai licik. Aku memundurkan sedikit posisi dudukku. ‘Mereka
bicara?’, bisikku dalam hati.
“Brengsek!”, umpatku kesal
dibarengi gebrakan pada mejaku yang sedikit agak keras.
Perempuanku yang baru saja
datang, mengurungkan duduknya. Ia memandangku dengan berkerut dahi, “Sayang,
kenapa?”, matanya mengisyaratkan kebingungan.
Aku segera memperbaiki air
wajahku. Dengan suara sedikit gemetar aku menjawab, “Gapapa, kok. Udah?” ku pasang
senyum sebaik mungkin. “Iya, udah”, jawabnya dengan senyum yang membuatku (kembali)
jatuh cinta. Dadaku bergemuruh, entah kenapa.
29 September, pukul 17.27 WIB
Perempuan di kursi ujung itu
menyudahi bacaannya. Ia meletakkan buku yang sedari tadi menjadi fokus dirinya ke
atas meja. Kopi yang ia pesan masih mengepulkan asap. Detik kemudian, lagu
Walau Habis Terang milik Noah menggema di udara.
Peluk tubuhku
untuk sejenak
Dan biarkan
kita memudar dengan pasti
Jingga di ufuk barat mulai
menggelap. Mata perempuan di kursi ujung itu tidak lepas dari jendela kaca,
menatap nanar cakrawala. Bulir kecil di ujung matanya hampir saja jatuh. Isi kepalanya
menerawang. Senyum tipis di bibirnya mulai memudar.
Dari tempat duduk seorang
laki-laki yang sedari tadi memerhatikannya dari jauh, secangkir macchiato bernyanyi
kecil menyindir, “biarkan semua seperti seharusnya, takkan pernah menjadi
milikku.”
29 September, pukul 17.31 WIB
Dadaku sesak. Berkali-kali kuhela
napas panjang lalu membuangnya dengan kasar. Perempuan di hadapanku sedang
antusias bercerita banyak hal; tentang harinya hari ini, teman-temannya, bos di
kantornya yang berulang tahun, juga sahabatnya yang baru saja menyebarkan
undangan pernikahan. Aku mendengarkan, kutanggapi dengan tawa juga sesekali
menggenggam tangannya.
Tetapi pemilik tas oranye itu
sungguh mengusikku. Perempuan dengan mata sayu miliknya, senyum yang (dulu
pernah) menjadi milikku satu-satunya, juga secangkir hot macchiato dengan
kepulan asap kecil persis seperti yang kupesan.
Berjalanlah walau
habis terang
Ambil cahaya
cintaku
Terangi jalanmu
Di antara
beribu lainnya
Kau tetap, kau
tetap, kau tetap… benderang
Aku menatap perempuan di
hadapanku, kegenggam tangannya dengan erat. Sejauh ini, masih belum pernah ada
pertanyaan tentang mengapa aku selalu memesan dua cangkir kopi yang berbeda.
Sejauh ini, belum juga ku ceritakan tentang seorang perempuan yang pernah ku lukai
dengan begitu tega. Aku tersenyum kecil, ku arahkan tanganku menuju puncak
kepala perempuan yang kucintai saat ini. Aku membelainya lembut, sebagai
isyarat bahwa saat ini- ‘aku mencintainya’.
Sementara dari kejauhan…
Dari tempat seorang perempuan yang
baru saja mengalihkan pandangannya dari jendela kaca, mataku tidak sengaja beradu
pandang dengan pemilik tas oranye itu.
Dengan cepat kuturunkan tanganku
dari puncak kepala perempuanku. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Mata sayu yang
sedari tadi ku potret dan kusimpan dikepala, berubah menjadi tatap nyalang
penuh kebencian.
“Lebih dingin dari yang ku kira
rupanya ya, Tuan”, bisik meja di hadapanku. “Hahahaha. Lalu yang mana pemenangnya,
Tuan? Yang sedang kaubersamai saat ini, atau yang menatapmu penuh kebencian
itu?”, kursi di sampingku terbahak.
Rahangku mengeras. Ku kepalkan tanganku
kuat-kuat menahan amarah.
Tiba-tiba sebuah suara menggelitik di telinga. “Pemenangnya adalah sang pemilik macchiato,” ucap segelas bubble
gum yang sedari tadi bisu memerhatikan.
Aku, terdiam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar