Senin, 29 Agustus 2022

Jingga dan Macchiato di Sebuah Kedai Kopi

 29 September, pukul 17.12 WIB

”Tunggu, tunggu! Jangan bicara dulu! Biar aku yang nebak...”, perempuan di depanku mengangkat jari telunjuknya sembari tersenyum kecil. Gerak bibirnya membaca selembar kertas yang tengah ia genggam. Manik matanya mencari-cari.

”Secangkir cappuccino dingin dengan ekstra foam tanpa gula dan secangkir macchiato hangat dengan setengah sendok gula”, bibirnya melengkung lebar. ”Dan segelas bubble gum favoritkuuuu!”, tambahnya dengan penuh semangat. Aku menghela napas. Ku ulurkan tangan kananku untuk mengacak rambutnya, gemas. ”Perempuanku...”, bisikku lirih.

”Aku hebat, kan? Enam kali kita kencan dan aku sudah hafal menu favoritmu. Hehe..”

Aku tertawa. Kupandangi sekali lagi perempuan di hadapanku. Aku mencintainya. Iya, aku yakin aku mencintainya. Sekali lagi ku ulurkan tanganku di puncak kepalanya sambilalu ia mencatat pesanan kami di selembar kertas.

“17.21, sebentar lagi matahari terbenam. Bagian yang paling aku suka dan kamu juga suka. Gimana kalau nanti kita nikahnya pas lagi momen senja gini?”, matanya menatap tepat di hitam legam bola mataku. Aku terhenyak, tiba-tiba jantungku terasa sedikit ngilu. Perempuan di hadapanku masih tersenyum lebar, menunggu jawaban. Aku memperbaiki posisi dudukku. Jari telunjukku sedikit gemetar. Kemudian dengan sedikit getir kujawab, “Iya, sayang. Nanti kita nikah pas senja yaaa..”

“Yes!!”, ia melompat kegirangan. Kedua lengannya memelukku secara tiba-tiba. Sekali lagi, kubelai puncak kepalanya, kemudian berbisik, “ppsstt.. kertasnya udah ditunggu sama baristanya tuh!”

Perempuanku melangkah menjauh, mendekati meja barista untuk menyerahkan pesanan. Sementara aku tetap di posisiku, duduk di meja nomor 12 dekat jendela kaca menghadap ufuk barat. Ku lirik jam ditangan kiriku, 17.23. “Sebentar lagi…”, bisikku lirih.

 

Krinciiingg…

Bunyi bel pintu mengalihkan pandanganku. Seorang perempuan dengan tas warna oranye baru saja datang diiringi senyum lebarnya pada seorang barista. Tangannya memeluk sebuah buku, kemudian dia tertawa, “seperti biasa ya, bro! Hehe.”

Mataku terpaku. Perempuan itu melewati beberapa meja kosong dan duduk di meja paling ujung. Rambut hitamnya jatuh lembut dihiasi sinar jingga sang matahari. Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan sebuah benda dari dalam sana.

 

“Pesananmu belum datang, Tuan. Tapi mengapa hatimu sudah sedingin ini?”, aku terperanjat kaget. Kucari-cari asal suara barusan. Ternyata meja di hadapanku meledek sinis. Kuusap-usap mataku, meyakinkan bahwa yang baru saja ku dengar hanyalah imajinasiku saja. “Kau ke sini lagi setelah sekian lama tidak mengunjungi kami, Tuan? Tetapi sepertinya ada yang berbeda kali ini..” ubin yang ku pijak tersenyum tipis. “Bahkah aku berani bertaruh bahwa percakapan kali ini tidak akan sehangat kemarin!”, kursi yang kududuki menyeringai licik. Aku memundurkan sedikit posisi dudukku. ‘Mereka bicara?’, bisikku dalam hati.

“Brengsek!”, umpatku kesal dibarengi gebrakan pada mejaku yang sedikit agak keras.

Perempuanku yang baru saja datang, mengurungkan duduknya. Ia memandangku dengan berkerut dahi, “Sayang, kenapa?”, matanya mengisyaratkan kebingungan.

Aku segera memperbaiki air wajahku. Dengan suara sedikit gemetar aku menjawab, “Gapapa, kok. Udah?” ku pasang senyum sebaik mungkin. “Iya, udah”, jawabnya dengan senyum yang membuatku (kembali) jatuh cinta. Dadaku bergemuruh, entah kenapa.

 

29 September, pukul 17.27 WIB

Perempuan di kursi ujung itu menyudahi bacaannya. Ia meletakkan buku yang sedari tadi menjadi fokus dirinya ke atas meja. Kopi yang ia pesan masih mengepulkan asap. Detik kemudian, lagu Walau Habis Terang milik Noah menggema di udara.


Peluk tubuhku untuk sejenak

Dan biarkan kita memudar dengan pasti


Jingga di ufuk barat mulai menggelap. Mata perempuan di kursi ujung itu tidak lepas dari jendela kaca, menatap nanar cakrawala. Bulir kecil di ujung matanya hampir saja jatuh. Isi kepalanya menerawang. Senyum tipis di bibirnya mulai memudar.

Dari tempat duduk seorang laki-laki yang sedari tadi memerhatikannya dari jauh, secangkir macchiato bernyanyi kecil menyindir, “biarkan semua seperti seharusnya, takkan pernah menjadi milikku.”

 

29 September, pukul 17.31 WIB

Dadaku sesak. Berkali-kali kuhela napas panjang lalu membuangnya dengan kasar. Perempuan di hadapanku sedang antusias bercerita banyak hal; tentang harinya hari ini, teman-temannya, bos di kantornya yang berulang tahun, juga sahabatnya yang baru saja menyebarkan undangan pernikahan. Aku mendengarkan, kutanggapi dengan tawa juga sesekali menggenggam tangannya.

Tetapi pemilik tas oranye itu sungguh mengusikku. Perempuan dengan mata sayu miliknya, senyum yang (dulu pernah) menjadi milikku satu-satunya, juga secangkir hot macchiato dengan kepulan asap kecil persis seperti yang kupesan.


Berjalanlah walau habis terang

Ambil cahaya cintaku

Terangi jalanmu

Di antara beribu lainnya

Kau tetap, kau tetap, kau tetap… benderang


Aku menatap perempuan di hadapanku, kegenggam tangannya dengan erat. Sejauh ini, masih belum pernah ada pertanyaan tentang mengapa aku selalu memesan dua cangkir kopi yang berbeda. Sejauh ini, belum juga ku ceritakan tentang seorang perempuan yang pernah ku lukai dengan begitu tega. Aku tersenyum kecil, ku arahkan tanganku menuju puncak kepala perempuan yang kucintai saat ini. Aku membelainya lembut, sebagai isyarat bahwa saat ini- ‘aku mencintainya’.

 

Sementara dari kejauhan…

Dari tempat seorang perempuan yang baru saja mengalihkan pandangannya dari jendela kaca, mataku tidak sengaja beradu pandang dengan pemilik tas oranye itu.

Dengan cepat kuturunkan tanganku dari puncak kepala perempuanku. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Mata sayu yang sedari tadi ku potret dan kusimpan dikepala, berubah menjadi tatap nyalang penuh kebencian.

“Lebih dingin dari yang ku kira rupanya ya, Tuan”, bisik meja di hadapanku. “Hahahaha. Lalu yang mana pemenangnya, Tuan? Yang sedang kaubersamai saat ini, atau yang menatapmu penuh kebencian itu?”, kursi di sampingku terbahak.

Rahangku mengeras. Ku kepalkan tanganku kuat-kuat menahan amarah.

 

Tiba-tiba sebuah suara menggelitik di telinga. “Pemenangnya adalah sang pemilik macchiato,” ucap segelas bubble gum yang sedari tadi bisu memerhatikan.

 

Aku, terdiam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar